Menulis dengan Hati, antara Kenangan dan Harapan

44 comments

Kalau seseorang bertanya apakah kamu bisa menulis, kira-kira jawaban kamu apa? Bagi sebagian besar orang pasti akan menjawab bisa. Tapi jawaban ini akan berbeda jika pertanyaannya diubah sedikit saja menjadi apakah kamu bisa membuat tulisan?

freepik.com

Menulis dan tulisan berasal dari kata dasar yang sama yaitu tulis. Penambahan baik awalan maupun akhiran membuat kata dasar ini memiliki arti yang berbeda.

Menulis merupakan kegiatan membuat tulisan sedangkan tulisan adalah hasilnya. Hampir setiap orang dapat dipastikan pernah menulis namun tidak serta merta kegiatan menulisnya menghasilkan tulisan.

Menulispun ada yang sifatnya spontan dan ada yang terencana. Saat menulis spontan, kita seolah-olah masuk ke alam lain seperti alam kenangan atau alam khayalan. Saat itulah menjadi momen kita mencurahkan apa yang ada di kepala tanpa adanya batasan-batasan yang ada di luar isi pikiran kita. 

Menulis bahkan menjadi salah satu terapi self healing. Kebebasan mencurahkan apa yang kita rasakan, kita pikirkan dan apa yang kita inginkan lewat tulisan tanpa adanya batasan/doktrin membuat otak bekerja sesuai kapasitasnya. 

Hal yang berbeda saat kita dituntut menulis atau dalam bahasa saya menulis terencana. Sebelum pena menyentuh kertas atau jari-jari menyentuh keyboard laptop, otak kita sudah terlebih dahulu bekerja, berpikir tentang apa yang akan ditulis sebagai opening agar sesuai dengan brief tulisan yang ada.

Kalau dulu diary atau buku harian menjadi trend di kalangan remaja untuk mencurahkan isi pikirannya, maka sekarang postingan di sosmedlah yang menggantikan diary. Yang pertama dilakukan secara private, sedangkan yang kedua dilakukan terbuka, namun keduanya sama-sama sebagai bentuk ekspresi spontan yang dirasakan, dialami ataupun diinginkan. 

Kang Maman Saat IG Live JNE

"Proses kreatif dalam penulisan adalah pengalaman yang dituangkan secara  Theater of Mind "Kata kang Maman seorang penulis sekaligus pengiat literasi ketika Instragram Live bersama JNE

Sayapun termasuk orang yang suka menulis. Sebagai seorang ibu, kegiatan menulis saya tidak lepas dari kejadian sehari-hari di rumah. Momen-momen bersejarah yang berhubungan dengan anak-anak menjadi dominasi coretan- coretan saya. 

Saat pertama kali anak bisa memanggil mama, melangkah tanpa dibantu, ke sekolah tanpa drama dan kejadian- kejadian lain menjadi inspirasi saya menulis. Jadi menulis bagi saya adalah kegiatan yang sangat mengasyikan, menjadi "me time" di sela-sela mengurus segala urusan di rumah.

Saat TK

Saat Dewasa

Membaca kembali coretan yang saya buat tanpa berpikir ini itu alias siapa berkata apa dengan media apa dan efek apa yang diinginkan, mengalir saja pokoknya,  menjadi sebuah momen indah. Otak dan perasaan seperti direcharge dengan bernostalgia dengan momen-momen yang terjadi. 

Menulis itu adalah voice of the voice

Ada kejadian yang mengharukan yang sampai saat ini masih lengkat di ingatan saya. Suatu saat saya sedang merapikan meja belajar si kecil yang baru duduk di TK. Terselip sebuah kertas dengan coretan pensil warna biru. "Namaku Keagi, umur 5 tahun, aku sayang sama mama, aku mau masuk surga". 

Serta merta air mata sayapun mengalir setelah membaca coretan yang dibuat si kecil. Saat itu Keagi memang sedang belajar baca tulis. Coretan sederhana yang sarat makna. Coretan yang menunjukkan kemampuan baca tulisnya, coretan yang berisi rasa sayangnya, dan coretan keinginannya.

Dari sebuah coretan sederhana anak,  banyak hal yang saya rasakan. Bersyukur adalah salah satunya. 

Bersyukur juga saya mempunyai ayah yang menurunkan sifat hobi membaca. Karena dari membaca bukan saja menambah wawasan tetapi perbendaharaan kata juga bertambah. Ini sangat membantu saya ketika menulis.

Akh rasanya selama hayat masih dikandung badan, saya akan tetap menulis. Menulis dari hati dan berbicara dengan ketulusan.

Semoga Allah merahmati, Aamiin

Related Posts

44 comments

  1. Iya sih aga susah ya kalau proses kreatif itu dipaksakan pada saat gak mood misal. Jadi ya "asal tulis" tapi bukan "tulisan" yang menurut penulisnya sendiri baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. This! Pun banyak juga ditemukan teman teman yang memang menulis udah jadi kebiasaan ya nggak pake tunggu mood. Lebih pada waktu aja

      Delete
  2. Apa yang disampaikan dari hati maka akan sampai ke hati. Ini Quotes bagus banget bisa diaplikasikan di proses menulis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah ya. Dari hati akan keluar dengan sendirinya ya

      Delete
  3. Menulis itu bisa menjadi rekam jejak dan kenangaan
    Aku jadi teringat akan sebuah quote "menulis itu membentuk peradaban, kelak ketika raga tiada tulisan akan jadi rekam jejak abadi"

    ReplyDelete
  4. Menulis apa yg kita alami sehari-hari, suatu saat jika kita membacanya kembali pasti timbul lagi kenangannya ya. Entah kenangan bahagia, haru, bahkan sedih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar banget rekam jejak yang akan jadi kenangan ya

      Delete
  5. Menulis berdasarkan pengalaman sehari-hari memang sangat menyenangkan. Benar juga, kata kang Maman kalau disebut Theater of Mind. Lebih terasa mengalir dalam kata dan kalimat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nggak ribet mikir aiuenya tapi ya nulis aja dulu

      Delete
  6. Saya juga suka nulis, untuk mengingat kenangan dan juga healing. Kadang sebelum memulai nulis untuk reportase atau job, suka nulis bebas, untuk membiasakan diri menulis, nggak nunggu mood. Seru ya dapat ilmu dari Kang Maman, setuju dengan penyebutan Theater of mind

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, membiasakan menulis juga tanpa sadar perbendeharaan kata makin banyak ya untuk ambil angle dari mana misalnya

      Delete
  7. Terasa banget pentingnya menulis, ketika kita membuka tulisan tulisan lama. serasa menjadi pengingat, kenangan baik/ buruk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah ini ya, kita juga bisa liat ya perkembangan tulisan kita dari waktu ke waktu

      Delete
  8. Setuju banget..bahwa nenulis bisa menjadi self healing, krn aku pun merasakannya mba.. Terima kasih sharingnya..menginspirasi utk terus berusaha menulis dari hati..

    ReplyDelete
  9. yes, the power of writing. Memang menulis bisa juga jadi healing ya kak. Bagai membuka jendela ilmu, tp anak jaman now,,lebih doyan nonton youtube

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah ! Aku aja pegang pulpen agak kaku lho karena menulis kan by laptop atau hp...manual kan penting juga ha ha ha

      Delete
  10. Saya juga menulis sampai hari ini karena terkadang meluapkan isi hati juga sih. Memainkan perasaan dan mengisahkan beragam kenangan terutama ketika melakukan perjalanan. Btw,itu tulisan si dedeknya memang menyentuh sih,saya belum jadi ibu saja bisa ikut terharu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ha ha ha mksh mba. Ditulis usia 5 tahun. Sekarang sudah 22 tahun anak ini

      Delete
  11. Menulis itu kalo dipake bener konsep theatre of mindnya memang pasti jleb sampe ke hati dan dan ubun-ubun para pembaca yaa kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah aku belum bisa gini nih kayak kang maman ha ha ha kadang beberapa kata aja duh ya beliau

      Delete
  12. Ini yang sebenarnya aku pikirkan beberapa waktu. Dulu, zaman pakai diary, kalau mau nulis kok ya free banget gitu mbak. Tapi setelah nulis terencana, eh malah ngambang semua idenya wkwkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kan.Akupun kayak jadi takut salah ya mau ambil angle aja bingung lama lama dikejar DL deh πŸ˜‚

      Delete
  13. Tulisan yang mengalir itu biasanya ditulis dengan hati. Ia menyimpan kenangan dan harapan.
    Itu juga tujuan saya menulis di blog dengan suatu ciri khas agar diingat orang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akh senang baca blog kamu mba, bikin saya belajar juga klo ktm blog teman teman

      Delete
  14. Setuju banget... Apalagi sebagai seorang ibu, rasanya nggak habis-habisnya cerita keseharian di rumah bersama anak-anak bisa dijadikan ide tulisan. Bisa jadi catatan kenangan dengan segala romantikanya, atau dikemas jadi sharing pengalaman yang valid... Bumbu "dari hati" ini yang bikin tulisan juga bisa lebih dekat dengan pembaca. Cuma ya terus terang kendalanya sekarang sering soal waktu, ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ha ha ha iya ya. Kalau yang kerjaan rasanya karena ada kewajiban jadi lancar aja ya mba. Aku merasa lho

      Delete
  15. Terharu dengan suratnya Nak Keagi. MasyaaAllah hebatnya semoga jadi anak yang membanggakan dunia akhirat aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin ya Allah. Terima kasih banyak mba..saya sampaikan ke anaknya ini.

      Delete
  16. Kadang kalau lagi baca-baca tulisan yang telah lalu juga suka terngiang dan nostalgia mbak.. Btw memang banyak temen-temenku yang pengen bisa membuat tulisan, tapi katanya ga bisa dan ngga pede, hihi padahal tulis aja ya mbak yang penting dari hati~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tepat. Karena penulis handal pasti awalnya ya nulis nulis biasa dulu ya kan

      Delete
    2. iya mbak, masalah jam tayang juga penting banget kan yaa...

      Delete
  17. Saya menulis karena ingin berbagi cerita ke para pembaca mba, dan awal saya menulis karena pribadi sih. Saya orang yang pelupa sekali, maka saya menuliskan nya agar bisa dibaca kembali ☺πŸ₯²πŸ˜š

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku malah awal nulis kocak banget mba , aku pikir ya kayak nyetatus aja ha ha ha terus ngebatin kok nggak ada yang komen ya ha ha ha

      Delete
  18. Menulis memang membutuhkan hadir utuh merasakan apa yang ingin dituangkan ke lembaran kosong yang ada di hadapan kita.
    Tentu tidak mudah dan pasti membutuhkan yang namanya sebuah proses panjang.

    MashaAllah~
    ananda bikin mama terharu yaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, one moment in time yang nggak akan saya lupa mba. Sukses untukmu ya. Aamiin πŸ™πŸ˜‡

      Delete
  19. Menulis dari hati itu lebih dapet feelnya waktu kita baca. Meski tulisannya sederhana. Aku pribadi hobi menis, karena buatku bisa untuk self healing

    ReplyDelete
  20. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba ria, alhamdulillah banget pun pandemi rejeki juga datang menulis ya, sukses selalu. Terima kasih

      Delete
  21. Seneng bangettt! Pasti ada kepuasan tersendiri saat bisa melepaskan "
    beban" saat menulis. Menulis itu bisa menjadi obat jiwa katanya. Agar emosinya ngga lari kemana-mana bisa dituang ke dalam sebuah tulisan. Begitu katanya xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Right ! Terima kasih ya semoga bermanfaat tulisan ini. AamiinπŸ™

      Delete
  22. Masya allah dari kecil mau masuk surga, bakalan bawa ibunya jg ke surga kelak.aamiin

    ReplyDelete

Post a Comment