One Day Trip ke Kota Udang Cirebon



Begitu mendengar kota udang, pasti sudah tau dong kota apa yang saya maksud? Yup, Cirebon. Sabtu kemarin, 11 November 2018, saya bersama keluarga. One day trip.

Rombongan yang terdiri dari adik, kakak dan 2 krucils berangkat dari St.Pasar Senen  pukul 07.35 dengan Tegal Ekpress. Acara jalan-jalan kali ini memang ala backpackeran untuk urusan tiket kereta api. Jadi kita milih semurah mungkin☺.Untuk tiket berangkat, harganya hanya 49 ribu lho. Dan untuk tiket Cirebon - Jakarta, kita beli yang agak mahal. Progo (96 ribu) menjadi pilihan dengan pertimbangan jam keberangkatan yang sesuai dengan itinerary kami selama di Cirebon.


Kawasan Batik Trusmi [dokpri]


Kami tiba di St.Prujakan Cirebon sekitar pukul 11.30. Kami dijemput oleh pak Budi, staf dari Naba Rent yang akan mengantar kami berkeliling kota Cirebon. Mobil yang kami sewa adalah Hiace dengan kapasitas 14 orang dengan biaya 1,2 juta untuk pemakaian selama 12 jam.

Tujuan pertama kami adalah Nasi Jamblang Bu Nur yang terletak di Jalan Cangkring 2. Karena kami menggunakan mobil sewaan berikut supir, hanya dalam waktu sekitar 10 menit kami sudah tiba di lokasi. Kondisi tempat makan sudah dipenuhi pengunjung namun tidak menyurutkan niat kami untuk antri. Sebagai informasi, di sini pengunjung bebas memilih lauk pauk sesuai selera. Lauk pauk disajikan dalam bentuk prasmanan yang dapat dipilih dan diambil langsung oleh pengunjung.


Menikmati Empal gentong [dokpri]


Untuk nasi, pengunjung tinggal menyebutkan berapa porsi nasi yang diinginkan. Jangan kaget dulu ya. Satu porsi nasi di sini boleh dibilang imut banget. Rata-rata pengunjung memesan 2-3 porsi dalam 1 piringnya. Nasi disajikan dengan alas daun jati sehingga memberikan aroma wangi yang sedap.

Menu pilihan saya adalah nasi ditambah sate udang plus tempe goreng. Sate udang diberi bumbu asem manis yang maknyus. Satu tusuknya terdiri dari 5 ekor udang ukuran sedang. Untuk tempe gorengnya, dipotong bentuk dadu dan digoreng garing. Sangat pas untuk kondisi perut yang lapar. Rayyan memilih nasi ditambah semur ati kegemarannya. Untuk 2 porsi makan ini, saya membayar sebesar 49 rb, sudah termasuk 2 botol Teh Sosro. Cukup murah khan??


Nasi Lengko [dokpri]


Tempat makan ini terdiri dari 2 lantai di mana ada fasilitas mushola di lantai atas. Oiya kami sarankan pilih lantai atas karena sirkulasi udaranya lebih nyaman dibanding lantai bawah. Apalagi pas weekend yang full ya. Kalau untuk toilet, saya rasa kurang memadai. Hanya ada 1 toilet di setiap lantainya. Dengan pengunjung yang padat, pengelola ke depan nampaknya harus memperhatikan akan ketersediaan toilet yang jumlahnya memadai.

Perjalanan kami lanjutkan ke Keraton Kasepuhan. Di sini tiket masuk yang dikenakan sebesar Rp 15 ribu untuk dewasa dan Rp 10 ribu untuk anak-anak. Kami menggunakan guide dengan pertimbangan agar mendapatkan cerita yang lengkap tentang keraton ini. Untuk tarifnya, saya terlebih dahulu bertanya ke supir kami dan didapat info bahwa tarif guide dalam kisaran Rp 50 ribu.

Spot pertama yang tertangkap mata adalah plang nama Sumur Kejayaan. Sumurnya sendiri tertutup, untuk melihatnya pengunjung kembali dikenakan tiket masuk sebesar Rp 10 rb (dewasa) dan Rp 5 rb (anak-anak). Namun kami skip dulu spot ini.


ziarah ke makam Sunan Gunung Jati [dokpri]


Kami masuk ke keraton dengan tidak lupa untuk mengabadikan momen untuk berfoto tepat di bawah ukiran motif batik khas Cirebon, Mega Mendung. Gapura putih ini dinamakan Kutagara Wadasan. Arti ukiran tersebut adalah seseorang harus mempunyai pondasi yang kuat jika sudah menjadi pimpinan atau sultan harus bisa mengayomi bawahan dan rakyatnya.

Selanjutnya kami berkeliling ke bagian-bagian lain keraton. Berhubungan jadwal wisata kali ini yang cukup padat, di sini kami habiskan waktu sekitar 45 menit saja.

Perjalanan kami lanjutkan ke Kampung Batik Trusmi. Sesuai namanya, ini adalah kampung di mana banyak dijual batik khas Cirebon. Di sepanjang jalan berjejer berbagai toko dan galeri batik. Nama Trusmi sendiri diambil dari nama Ki Gede Trusmi, yaitu pengikut setia Sunan Gunung Jati yang mengajarkan seni membatik sambil menyebarkan ajaran Islam. Sampai sekarang makam Ki Gede Trusmi tetap terawat dengan baik.


Beli tape [dokpri]

Belanja batik [dokpri]


Rencananya setelah berkeliling Trusmi, kami akan mengunjungi Gua Sunyaragi. Namun batal terlaksana karena hujan deras yang turun. Alhasil kami hanya melewatinya saja.Padahal sudah terbayang akan mendapatkan tempat yang bagus untuk berfoto, hehehehe.

Kekecewaan kami tidak berlangsung lama. Acara berburu oleh-oleh menjadi pengobatnya. Kami diantar ke Pangestu, salah satu pusat oleh-oleh di kota Cirebon. Saat kami datang, toko dipadati pengunjung. Tape ketan, sirup Tjampolay, terasi, gula batu adalah oleh-oleh yang biasa diburu wisatawan lokal. Tidak terkecuali kami...hahaha. Kalau jeniper pernah dengar? Ini bukan nama artis luar yang ngetop itu lho ya... Jeniper itu singkatan dari Jeruk Nipis Peras. Ya, ini salah satu oleh-oleh minuman yang mulai banyak diburu pengunjung.

Masih ada satu lagi oleh-oleh yang bisa dibilang sedang hits di Cirebon. Namanya Ketan Gurih. Ketan yang diberi bumbu olahan dari ebi. Pasti bisa dibayangkan kan gimana rasanya. Sayang, kami hanya berhasil membawa 1 kotak ketan gurih ini. Info yang kami dapat, karena jenis makanan ini mudah basi, jadi rata-rata dibuat berdasarkan order. Pun ada yang ready to sale, ya tidak banyak stoknya.






Nah ini cerita one day trip saya ke kota Udang Cirebon dengan tiket yang saya beli di pegipegi, teman-teman pokoknya tinggal donwload aja aplikasinya, terus pilih dari tiket pesawat, kereta api juga ada promo-promo menarik. Secara keseluruhan perjalanan kita jadi dimudahkan buat urusan tiket kereta api. 

18 comments :

  1. Sate udang kusuka 😍 Kek nya daku familiar juga dengan Trusmi ini cuma lupa pernah dengar dimana

    ReplyDelete
  2. mantul. rekomended untuk ngetrip nih.

    ReplyDelete
  3. Wah seru banget jalan-jalan kesana ya kak, ketan termasuk oleh-oleh yang harus dibeli juga ya kalau kesana.

    Kebetulan mama suka ketan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya enak banget lho, tapi harus tepat jamnya kalau nggak habis deh hahaha

      Delete
  4. Huaaah aku jadi kangen berat sama Cirebon.. Pingin kulineran sama beli batik haha.. :D Cirebon jaraknya terjangkau ya mba, sehari pun bisa bolak balik.. Aku terakhir ke sana juga naik kereta. Seru perjalanannya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar Dit, asal jalan pagi aja, malam udah balik lagi kan

      Delete
  5. Aku baru sekali ke Cirebon, naik kereta bareng temen-teman.. memang seru banget ya.. wisata kuliner udah wajib banget, main-main ke keraton.. tapi aku belum ziarah ke makam sunan gunung jati hehe.. next ke Cirebon bareng keluarga ah.. ceki2 pegi pegi semoga harga tiket bersahabat yaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kebetulan banget memang niat ziarah jadi pas deh, pas juga nggak terlalu ramai. Disini harus siapkan uang recehan karena banyak banget yang menyambut kita sebelum sampai ke makam.

      Delete
  6. Alhamdulillah yaa kekecewaan sedikit terobati dengan berburu Oleh-oleh. Saya jugaa palinggg suka pas kegiatan beli Oleh-oleh saat traveling, sambil membayangkan ini dikasi ke siapa :D

    ReplyDelete
  7. Aku beberapa kali ke Cirebon tapi lebih banyak numpang lewatnya. Hihihi. Padahal pengen banget menikmati batik Cirebonya yang bagus-bagus. Hayuuk kapan kapan ke Cirebon, mbaa :)

    ReplyDelete
  8. Wah murah ya tiketnya cuma 49 ribu. Apalagi pulangnya borong batik asli Cirebon. Next traveling ke Cirebon.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak, nggak ribet deh cari tiket, tujuan dan booking

      Delete
  9. Cirebon yang aku tau cuma batik trusmi sama tempenya yang khas. AKu sendiri belum pernah mampir ke sana. Hhu...

    Makasih infonya ya mba Gita.

    ReplyDelete