Home Learning yang Menggugah Peran Dasar Ibu



Corona means covid 19 means social distancing means home learning.


Home Learning [dokpri]

Sampai di home learning ini yang mau saya bahas. Ya, kita semua saat ini sedang dihadapkan pada situasi dan kondisi yang relatif sama dan bukan hanya secara nasional, namun skala dunia. 

Sejak bapak presiden kita mengumumkan adanya pasien yang terjangkit covid 19 di Indonesia, terjadi perubahan di berbagai kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Mulai dari yang sebelumnya lebih sering menonton infotement sekarang mengikuti terus update berita, yang sebelumnya agak cuek soal kebersihan sekarang lebih concern terutama urusan mencuci tangan. Dan perubahan yang signifikan dan dianggap "menambah beban" pekerjaan ibu di rumah bagi sebagian masyarakat yaitu home learning.


Home Learning [dokpri]

Salah satu himbauan pemerintah dalam menghadang penyebaran wabah penyakit yang awal kasusnya terjadi di Wuhan,Tiongkok ini adalah social distancing atau menjaga jarak. Himbauan ini disikapi oleh berbagai institusi baik pemerintah maupun swasta dengan membuat kebijakan-kebijakan agar social distancing menjadi efektif. Kementrian Pendidikan Nasional pun turut ambil bagian membuat kebijakan dengan meliburkan para pelajar datang ke sekolah. Namun demikian KBM atau Kegiatan Belajar Mengajar tetap dilaksanakan dari rumah atau secara daring dan diberi istilah home learning.


Home Learning [dokpri]


Secara sederhana home learning diartikan belajar di rumah. Adapun bentuk pembelajarannya beraneka ragam. Ada guru yang memberikan materi dengan mengirimkan video yang terkait dengan materi yang dipelajari untuk selanjutnya memberikan soal-soal latihan, ada guru yang secara langsung melakukan interaksi dengan para muridnya melalui sosial media dengan membentuk grup diskusi. Ada pula yang hanya mengirimkan materi tugas dan memberikan tenggat waktu pengumpulan tugas yang diberikan tadi. Kalau melihat model pembelajarannya sih terkesan mudah ya moms... Namun pada prakteknya, seru abis.😅..

Sebagai contoh keluarga yang memiliki 2 jagoan dengan level pendidikan kelas 5 SD dan TK A. Sebenarnya kalau urusan menemani anak sih setiap hari selalu para ibu lakukan. Yang bikin seru dengan adanya home learning itu adalah pembagian waktu karena materi, tugas, ataupun diskusi dilakukan sesuai dengan jam pelajaran di sekolah dalam kondisi normal yang artinya "terlalu pagi" buat seorang ibu menemani anaknya belajar. 


Home Learning [dokpri]

Dimana biasanya di pagi hari saat anak bersekolah, ibu melakukan tugas rutin seperti kebanyakan kaum ibu yaitu beberes rumah, memasak, menyuci, menyetrika dan berbagai pekerjaan rumah tangga lainnya. Dengan adanya home learning ini, ibu harus lebih mengatur waktu agar semua bisa berjalan lancar dan untuk tugas sekolah anak anak dapat dikumpulkan sesuai deadline.

Hari ke-3 home learning, mulai muncul chit chat di grup sosial media yang isinya kebanyakan berisi keluhan para ibu dalam menjalani "profesi" barunya sebagai guru di rumah. Ada yang menganggap home learning adalah memindahkan tugas guru ke orang tua, ada yang menganggap home learning hanya dilakukan agar anak anak tetap memiliki kesibukan dan berada di dalam rumah saja, dan ada juga yang menganggap home learning menjadi tambahan biaya hidup karena ketersediaan kuota untuk melakukan proses belajar online ini menjadi keharusan.

Saya sendiri menyikapi home learning sebagai bentuk reminder atas peran ibu dalam mendidik anak- anaknya. Selama ini sekolah dianggap pihak yang paling bertanggung jawab atas pengembangan pendidikan anak. Bila anak lambat atau kurang mampu menerima materi yang diberikan guru, dengan cepat si orang tua menganggap guru tidak memiliki kapasitas yang mumpuni dalam mengajar. Bila guru menyampaikan perilaku anak yang kurang baik selama di sekolah, orang tua mengelak menerima kenyataan dan menganggap anaknya baik baik saja.

Pertanyaannya sebenarnya siapakah yang paling bertanggung jawab terhadap pendidikan seorang anak? Apakah yang dimaksud pendidikan? Apakah seorang anak dianggap berpendidikan apabila telah berhasil lulus dengan nilai akademisi yang tinggi dan mengantungi ijazah dari sekolah favorit?

Home learning ini menjadi pengingat saya bahwa pendidikan anak sejatinya merupakan tanggung jawab orang tua terutama kaum ibu. Dalam ajaran Islam disebutkan bahwa ibu adalah madrasah (sekolah) bagi anak- anaknya. Ibu dengan kasih sayangnya diharapkan mampu memberikan pendidikan bukan hanya pendidikan yang bersifat ilmu pengetahuan umum namun pendidikan akhlaq yang amat sangat diperlukan anak- anak saat mereka terjun dan berinteraksi dengan masyarakat luas. Banyak kita liat contoh anak anak yang secara ilmu pengetahuan dianggap pintar dan cerdas namun dalam perilaku, ucapan dan tindakannya jauh dari sopan. Tidak memiliki adab yang baik saat bertemu dengan orang yang lebih tua, kurang peka terhadap kesulitan yang dialami orang lain.

Sekolah memang telah mengajarkan pendidikan baik ilmu pengetahuan dan pendidikan spiritual kepada murid muridnya. Namun durasi yang diberikan tidak lebih dari 8 jam sehari dan 5 hari dalam seminggu. Selebihnya anak- anak mendapatkan pendidikan di rumah. Artinya anak- anak lebih banyak berinteraksi di rumah ketimbang di sekolah. Sekolah hanya membantu proses pendidikan anak, dan sudah seharusnya para orang tua tidak menyerahkan tanggung jawab pendidikan ke sekolah.

Di sinilah peran ibu menjadi sangat dominan dalam mendidik anak- anaknya di rumah. Bagi ibu yang bekerja, tidak berarti pekerjaan kantor menjadi alasan untuk meninggalkan mendidik anak-anaknya. Dengan kemudahan teknologi saat ini, berbagai cara bisa dilakukan agar ibu yang bekerja tetap dapat mengontrol sekaligus menemani putra putrinya dalam belajar. Hanya satu hal yang membuat semua itu mungkin, yaitu niat untuk terus dapat memberikan pendidikan kepada anak -anak kita sehingga momen home learning ini bisa menjadi reminder kita semua kaum ibu bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawab kita para ibu. Salam hangat untuk keluarga tercinta. 

Wajib Tau, Inilah Fitur-Fitur Website Paling Penting untuk E-Commerce


E-commerce atau electronic commerce adalah kegiatan pemasaran, pembelian, penjualan produk berupa barang atau jasa dengan menggunakan media elektronik.

Film Hijaiyah Cinta, Cinta Tanpa Sentuhan Fisik


Zaman sekarang sebagian orang yang gemar mengunggah foto bagaimana gaya berpacaran mereka ke media sosial bukanlah hal tabu lagi.