Komunikasi Dalam Keluarga Memegang Peran Penting Menghadapi revolusi industri 4.0

" Mba Git, kalau misal lagi nggak liputan titip liat- liat anakku ya mba"? Mulai bulan depan ada mbak yang mau jaga anakku mbak. Maklum mbak Git, ayah sama ibuku mau pulang kampung karena tahun ini ayah pensiun." kata tetanggaku yang baru punya anak satu.

Apapun keluarganya komunikasi jadi hal utama


Sebagai tetangga saya memaklumi ke khawatiran pasangan muda ini. Anaknya yang selama ini di titipin di nenek kakaknya bulan depan akan mulai di asuh orang lain. Tentu ada rasa was was karena seperti banyak di alami ibu pekerja lainnya.

Tapi apakah ketika anak di asuh oleh kakek dan neneknya, apa yang anak atau orang tua si anak inginkan sampai?

Kalau melihat dari banyaknya pasangan muda saat ini yang menitipkan anaknya mulai dari pakai jasa pembantu rumah tangga, nitip di keluarga atau taruh di daycare. Goalnya yang dicari semua pasti sama, selain anak aman juga "ingin" anaknya tetap dapat tumbuh dan berkembang dengan baik meskipun tidak bersama orang tua selama 24 jam. Iya nggak?

Nah pertanyaannya kemudian adalah, apakah orang tua dan yang dititipin melakukan hal yang sama kepada anak? Juga si mbak dirumah aktif juga ajak bicara anak? Atau ya diem aja yang penting anak di rumah mandi, makan, tidur dan bermain beres maka aman semua. Pun bermainnya hanya sebatas nonton televisi.

Kemudian ketika ada orang tuanya ya sama aja. Buka Youtube kasih ke anak. Beres. Kalau ini yang dilakukan ya sama aja boong. Kalau setiap hari anak aktifitasnya adalah pasip. Yang jangan harap juga orangnya ketika bertemu untuk maksa jadi anak yang aktif. Karena bermain yang anak lakukan adalah nonton tayangan melalui internet.

Situasi ini tentu nggak.bisa dianggap remeh karena nantinya keluarga akan sibuk sendiri -sendiri di dalam rumah. Anak akan akrab dengan gadget dari mulai makan, mandi hingga mau tidur. Repot kan?

kak Resi & Pak Sitepu


Dalam acara Blogger Gathering bersama BKKBN ( Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) yang berlangsung pada hari Rabu tanggal 14 November 2018 yang bertempat di lantai 3 gedung BKKBN Halim, Dr. Privudiarta Nur Sitepu Sekretaris KPP dan PA mengatakan "Pada hari anak 3 tahun yang lalu, ada anak yang bercita-cita ingin jadi Youtuber dan saya bingung! Hahaha

"Disini saya melihat teknologi ada 2 sisi antara generasi old dan milenial dan di sini akan timbul konflik" tambah bapak yang suka humor ini.

Dampak Revolusi Industri 4.0 terhadap keluarga menjadi harapan sekaligus tantangan bagi keluarga di Indonesia. Keluarga kini dituntut untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi yang semakin berkembang dan mempengaruhi kehidupan setiap anggota keluarga secara struktural maupun kultural.

Sementara dikalangan generasi milenial dan generasi Z , konsep keluarga kecil dengan dua anak semakin populer. Karena kedua generasi tersebut sangat berorientasi pada karir dan masa depan.
Selain itu, generasi ini memiliki kecemasan terhadap situasi politik, ekonomi, dan lingkungan yang
dianggap semakin memburuk. Perilaku ini tidak lepas dari konstruksi dari berbagai media digital dan produk budaya populer yang mempengaruhi gaya hidup remaja Indonesia.

Saya & Mba Vera Psikolog


Lantas apa yang harus dilakukan? Karena menghentikan laju teknologi nggak akan mungkin? Psikolog cantik mba Roslina Verauli mengatakan "Cinta keluarga adalah cinta yang terencana. Struktur keluarga akan berubah kalau salah satu dalam keluarga ada yang berubah. Meja makan adalah tempat terhangat keluarga kumpul, saling bercerita tanpa gadget. Ayo !hidupkan agar ke depan kita menjadi keluarga Indonesia yang kuat, kompak terkoneksi dan berkomitmen untuk menghadapi industri 4.0 yang tetap punya tujuan."

Hmm, kita jadi ingat yang zaman dulu mau di desa atau di kota kumpul saat makan adalah hangat. Dari yang lesehan atau duduk di meja makan. Makan saat itu adalah ajang bertukar cerita antar anggota keluarga. Kalau sekarang sama-sama ada dalam ruang dan tempat yang sama, tapi kadang tidak saling terkoneksi karena sibuk sendiri-sendiri dengan handphone di tangan,

Di era industri 4.0 yang memaksa setiap anggota keluarga beraktivitas membuat waktu berkumpul bersama keluarga semakin sedikit. Ada semangat yang muncul untuk mengatur waktu bersama agar rasa cinta sesama anggota keluarga tetap terjaga ditengah kesibukan masing-masing.


Blogger Gathering with BKKBN



Namun sayangnya, disaat mereka berkumpul sebagai besar waktu dihabiskan di depan layar TV dan
smartphone masing-masing. Bahkan, kakek dan nenek mereka menjadi semakin menyendiri dan
terisolasi dari keluarganya sendiri.

Come on gaes! Yuk kita kembalikan lagi suasana hangat di meja makan ketika.kita kecil dulu ke dalam keluarga kita masing-masing sekarang. Karena komunikasi dalam keluargalah yang memegang peran penting  untuk menghadapi revilusi 4.0

Semoga kita belum terlambat.
Semoga. Aamiin.












Domus Infrastruktur Bangun Rumah Hanya 5 Hari Untuk Indonesia



Ada satu kebanggaan dalam hati saya ketika dapat hadir dalam acara Pameran Produk Baja Ringan di JIEXPO Kemayoran yang acaranya dibuka langsung oleh Presiden Jokowi.



Dimana dalam  rangkaian acara yang di hadiri 10.000 tenaga ahli kontruksi ini ada pemberian sertifikasi kepada SDM (Sumber Daya Manusia) yang selama ini ada dibalik nama perusahaan-perusahaan yang berkaitan dengan pembangunan infrastruktur di Indonesia.

Predator League 2019 Di Gelar di 14 Negara Asia Pacific


Stage [dok @onosembunglango]

Memasuki ruangan KEDASI di The Cause Event Space & Auditorium
Graha Niaga Thamrin Level 6, Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat suasana gothic sudah di bangun. Mulai dari pintu ke luar lift di lantai 6 hingga panggung dengan sinar laser yang menyertai video pendek tentang gamers.